OVOP
OVOP , Berbasis Budaya Bali Pengembangan Sentra Kerajinan Ate di Desa Sraya, Karangasem – Bali
Latar Belakang.
Keinginan pemerintah menjadikan gerakan "satu desa satu produk" alias one village one product (OVOP) sebagai program nasional memang patut didukung. Sebab, secara konseptual maupun praktis, khususnya di Taiwan dan Jepang, program OVOP amat menjanjikan. OVOP bisa diandalkan sebagai gerakan swadaya dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat serta menjadi wahana revitalisasi ekonomi daerah. Karena itu pula, OVOP bisa menjadi metode untuk membendung arus urbanisasi. Dengan OVOP, warga desa terkondisi tak memiliki cukup alasan untuk mencari penghidupan ke perkotaan. Sebab, pekerjaan dengan penghasilan yang relatif mensejahterakan tersedia di desa. OVOP memungkinkan kegiatan ekonomi terpicu dan terpacu berkembang sesuai dengan potensi dan keunggulan desa setempat.
Kerajinan di Karangasem sesungguhnya menyimpan Potensi yang sangat memungkinkan untuk berkembang menjadi kuat dan besar , seperti contoh kerajinan Ata, kerajinan kayu, batu tabas, rontal dll. Mengenai kondisi Pengrajin di Karangasem Bali, product kerajinan sebagian besar diproduksi di rumah masing-masing ( home industri ), yang mana banyak dikerjakan oleh ibu-ibu rumah tangga. Mereka mengerjakan kerajinan sambil bisa menunggu rumah, memasak, menjaga anak-anak ( melaksanakan fungsi ibu rumah tangga ), dan apabila ada kegiatan social kemasyarakatan bisa langsung terlibat dengan masyarakat lainnya. Kerajinan Menganyam merupakan sector kegiatan yang menyerap tanaga kerja yang cukup banyak, dan sesuai dengan Budaya Bali, yang mayoritas merupakan pekerjaan yang dikerjakan dengan tangan (handmade). Dari data Statistik , Karangsem dalam Angka tahun 2007, sector Anyaman menyerap Tenaga kerja yang paling besar di Karangasem, yang tercatat 9.324 orang tenaga kerja / home Industri.
Jumlah Penduduk Kabupaten Karangasem, tahun 2007, adalah 427.481 jiwa, laki-laki 214.030 jiwa, dan Perempuan 213.451 jiwa. Dari jumlah tersebut tercatat sebanyak 26.001 orang bergerak di sector Industri kecil.
Dan fakta di Lapangan, dengan Kondisi Geografis Karangasem yang ada diujung Timur yang cukup jauh dari kota Bisnis Denpasar, tidak kena jalur Nasional, dan kondisi SDM yang belum mendukung, mengakibatkan permintaan / Pesanan kerajinan ke Karangasem, masih mengalami mata rantai yang cukup Panjang, sangat jarang pesanan langsung dari Buyer. Hal ini mengakibatkan Pengrajin tidak menikmati keuntungan yang memadai, yang tentunya bisa menambah pendapatan tentunya hal ini akan meningkatkan taraf hidupnya. Sesungguhnya keberadaan sector Industri Kerajinan dalam perjalanannya ada yang sudah terlhat berjalan dengan bagus, karena adanya kerjasama langsung dengan artshop atau exporter, tapi itu hanya sebagian kecil saja, karena mayoritas hasil kerajinan Karangasem, khusus Pelakunya belum punya jaringan pasar akibat keterbatasan informasi dan juga keberadaan mereka masing sifatnya bergerak secara indipidu. Disamping kondisinya seperti diatas , juga kalaupun pengrajin kita mempunyai jaringan kerjasama, kebanyakan dijual dalam bentuk setengah jadi, belum diphinishing, belum dikasi asesoris, hal ini menyebabkan product Karangasem setelah diphinishing dan dikasi tambahan asesoris, begitu selesai sudah tertera merek Luar Karangasem. Inilah salah satu penyebab banyak Buyer atau Pembeli yang tidak tahu , sesungguhnya product tersebut diproduksi di Karangasem.
Mengapa kerajinan Ate kami angkat sebagai salah satu Product yang diajukan dalam Program OVOP ?, Pilihan ini didasari oleh berapa pertimbangan, bahwa begitu mendengar Kerajinan anyaman Ate, diketahui bahwa product tersebut merupakan kerajinan khas dengan brand Kerajinan khas Karangasem dengan gambaran perputaran omzet dari sektor Kerajinan ate, rata-rata diatas seratus jutaan keatas . Kerajinan Ate juga merupakan product Unggulan Karangasem, yang diproduksi secara masal, dikerjakan secara handmade dan dikerjakan oleh ribuan Tenaga kerja, yang didominasi oleh Kaum Perempuan. Disamping itu juga Kerajinan Anyaman Ate mempunyai kandungan Export yang tinggi, dan nantinya gampang dimodifikasi dengan material lain seperti kayu, Tempurung, pandan atau kulit. Dan tidak kalah pentingnya Kegiatan Menganyam secara Umum adalah kegiatan ibu-ibu di Pelosok Desa di Bali yang sudah menjadi budaya secara turun temurun.
Kenapa Lokasinya di Desa Sraya Karangasem ?, perlu diketahui sector kerajinan Ate, berkembang pesat di Wilayah Desa Sraya, yang melibatkan ribuan Pengrajin, yang bekerjanya di rumah masing-masing dengan ketrampilan tangan. Fakta di Lapangan Kerajinan Ate juga berkembang dibeberapa tempat di karangasem masyarakatnya terlibat menganyam Ate, seperti Desa Bungaya, Tenganan, Selat dan beberapa Desa lainnya yang tersebar disetiap Pelosok, yang nantinya bisa diatur untuk menjadi sutu kegiatan Home Industri yang Terintegrated. Dan dalam product yang dihasilkan masing-masing tempat berbeda antara Desa yang satu dengan yang lainnya , tetapi masih anyaman Ate.
Kembali lagi perlu disadari bahwa Inti dari program OVOP yang tidak boleh dilupakan adalah bagaimana bisa digarap secara Terpadu, yang melibatkan Pelaku Pengrajin, Aparat Setempat, Tokoh Masyarakat dan digarap secara Terpadu dan berkelanjutan dari Dinas / Instansi. Dan tidak kalah pentingnya Unsur Pemasaran. Dan Pengembangan Disain merupakan factor harus digarap secara Komprehensip. Konsep variabel pasar mencakup aspek yang tidak terbatas, mulai dari kepastian harga produk unggulan, ketersediaan pangsa pasar produknya, dan kesiapan infrastruktur pendukung agar distribusi tetap lancar.
Kondisi Saat Ini :
-
Pengrajin Ate berjalan sendiri – sendiri, kurang terkoordinir, sehingga tampak tidak ada sinkronisasi antara Pengrajin dan pihak Pemerintah dalam melakukan Pembinaan.
-
Penghasilan yang diterima oleh Pengrajin , imbalannya kurang memadai karena harga product ditingkat Pengrajin yang masih rendah.
-
Pengrajin Kesulitan dalam memperoleh bahan baku, dan harga yang didapat juga menjadi mahal, karena tidak ada Lembaga yang memediasi dan membantu dalam pengadaan bahan baku
-
Kurangnya Inovasi design, karena pihak Pengrajin hanya mengerjakan yang biasa mereka kerjakan saja, takut tidak diambil oleh Pengepul.
-
Belum adanya Lembaga yang menampung hasil Kerajinan Ate tersebut, sehingga disaat ada barang Pengrajin kesulitan menjual, dan terkadang karena keperluan akhirnya dijual dengan harga murah.
-
Tidak terpadunya program dari Pemerintah/ Dinas / Instansi membina Kerajinan Ate, sehingga nampak output dari Pembianaan menjadi sangat minim.
-
Tidak adanya Lembaga Pendamping dalam hal Pengembangan disain dan tidak ada Lembaga Pendamping dalam hal Pemasaran, dan fakta Lapangan , mata rantai Pemasaran masih panjang, sehingga imbalan yang diterima Pengrajin sangat minim.
Kondisi Yang Diharapkan :
-
Adanya focus sentra pengembangan kerajinan Ate, yang digarap secara terpadu dan terintegral.
-
Adanya suatu wadah Perjuangan bersama dari Pengrajin, dalam bentuk Koperasi Kerajinan yang akan bisa memperjuangkan dan mengatasi persoalan Para Pengrajin Ate.
-
Adanya Lembaga Pendamping Pengrajin, secara berkelanjutan menyangkut dalam hal Disain dan Penampingan Pasar.
-
Meningkatnya ketrampilan dan Inovasi Pengrajin mengembangkan disain dan model product baru, yang bisa dimoifikasi dengan material lainnya.
-
Mudah mendapatkan Bahan baku Ate, dan adanya diversifikasi penggunaan bahan Ate yang dipadukan dengan bahan lainnya, seperti tempurung, pandan atau asesoris Kulit.
-
Adanya Lembaga Pelatihan yang bisa secara focus, melakukan Pelatihan yang bersinergi dengan Dinas / Instansi berdasarkan kebutuhan Pasar
-
Pemasaran Product Ate bisa dilakukan secara terencana, dan terpadu, baik melalui media opline ( Brosur, pamplet ) atau melalui media Online dalam bentuk Pengelolaan Website.
-
Pasar Ate ( kaitan bahan baku dan barang setengah jadi ) yang ada sekarang, nantinya bisa direncanakan lebih baik, sehingga bisa berfungsi lebih optimal.
PENGERTIAN OVOP
-
Satu Desa Satu Product atau One Village One product adalah pendekatan pengembangan Potensi daerah di satu wilayah unuk menghasilkan satu produk kelas global yang unik khas daerah denga memanfatkan sumber daya lokal.
-
Satu desa sebagaimana dmaksud dapat diperluas menjadi kecamatan, kabupaten/kota, maupun kesatuan wilayah lainnya sesuai dengan potensi dan skala usaha secara ekonomis.
-
OVOP adalah pendekatan pengembangan potensi daerah untuk menghasilkan satu produk kelas global yang unik dan khas dengan memanfaatkan sumber daya lokal.
TUJUAN OVOP
-
Untuk menggali dan mempromosikan produk inovatif dan kreatif lokal, dari sumber daya, yang bersifat unik khas daerah, bernilai tambah tinggi, dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan, memiliki image dan daya saing yang tinggi.
-
Pengembangan IKM yang berdaya saing tinggi di pasar domestik dan global dan Mencari komoditas potensial di satu sentra yang memanfaatkan Potensi Lokal.
-
Menciptakan kawasan sentra Pengembangan Product Ate di Sraya, yang nantinya bisa diatur dan terkoodinir secara terpadu dan berkelanjutan.
SASARAN .
-
Terwujudnya OVOP di sentra Kerajinan Ate , yang nantinya ada Sinergi antara Pengrajin, Lembaga Keungan, Pemerintah dalam mengembangkan sector Kerajinan Ate .
-
Terwujudnya Lembaga Koperasi Kerajinan yang bisa menampung hasil Produksi Pengrajin , memperjuangkan kebijakan dan memberikan informasi dan Solusi dibidang Permodalan.
-
Tertatanya Industri Kerajinan Ate, selaku lokomotif , yang didukung oleh Industri Kerajinan Pandan dan Industri Kerajinan Tempurung Kelapa yang bisa saling modifikasi.
KRITERIA PRODUK
Tiga kriteria yang harus dimiliki lokasi pengembangan program One Village One Product (OVOP) atau satu desa satu produk, dalam rangka pengembangan IKM yang berdaya saing tinggi di pasar domestik dan global. Daerah yang menjadi pengembangan program OVOP harus ada keseragaman jenis usaha, memiliki tata ruang yang jelas, serta memiliki infrastruktur yang bagus.
- Produk unggulan daerah dan/atau produk kompetensi inti daerah
- Unik khas budaya dan keaslian lokal
- Berpotensi pasar domestik dan ekspor
- Bermutu dan berpenampilan baik
- Diproduksi secara kontinyu dan konsisten
Dari kriteria diatas sangatlah pas apabila dalam kontek Program OVOP, dipilih Product Kerajinan Ate sebagai sasaran dari Program.
LOKASI PENGEMBANGAN.
Penerapan program OVOP ini tidak terbatas hanya satu desa saja , bila memungkinkan disenergikan anyaman ate dengan Desa lainnya. Tetapi di Sraya saja ada Tiga Desa Inti ( Sraya Barat, Sraya Tengah dan Sraya Timur ), dan juga nantinya akan bisa didukung disebelah baratnya ada Industri Kerajinan Pandan dan di Desa Tegallinggah nantinya juga akan dikembangkan Sentra Kerajinan Tempurung, sehingga product kerajinan ate ini natinya bisa dipadukan dengan product pandan, tempurung atau kayu. Lokasi Sraya dari segi Tataruang tidak bepengaruh, karena kegiatan kerajinan ini merupakan kerajinan rumah tangga yang dikerjakan dengan ketrampilan tangan, tidak polusi dan tidak menimbulkan kebisingan an tidak merusak Lingkungan. Begitu pula sesuai dengan persyaratan dari Program OVOP tentang Infrastruktur tidak masalah, mengingat jaringan transportasi menuju Desa Sraya jalannya cukup bagus untuk dilalui kendaraan. Penunjang yang lain juga tidak bermasalah, dan Pariwisata juga perkembangannya cukup mendukung, dekat dengan Istana Air Taman Ujung Karangasem. Kalau Kondisi Alam di Desa Sraya merupakan Desa disaat musim kemarau terkadang kesulitan untuk mendapatkan air untuk mandi. Dan lahan Pertanian didaerah Sraya merupakan dataran kering, yang bisa bercocok tanam apabila musim hujan tiba.
Landasan Hukum Pengajuan Program OVOP :
1) Konsep itu tertuang dalam Peraturan Menperin Nomor 78/M-IND/PER/9/2007 pada 28 September 2007 tentang Peningkatan Efektivitas Pengembangan Industri Kecil dan Menengah Melalui Pendekatan Satu Desa Satu Produk di Sentra.
2) Tindak lanjut dari inpres No. 6 tahun 2007 soal percepatan pengembangan sektor riil dan peningkatan sektor mikro, kecil dan menengah.
Strategi
Kegiatan Kerajinan Tempurung ini dijadikan Lokomotif Pengembangan Sentra di Desa secara Terpadu dan nantinya bisa menggandeng product-product lainnya untuk bisa dikembangkan.
Adanya Sinkronisasi dalam menggarap kegiatan pengembangan Kerajinan Tempurung secara terpadu, komprehensip dan Berkelanjutan.
Uraian Peran dan Fungsi Masing-masing Lembaga :
DInas / Instansi :
-
Menjembatani Program OVOP dengan Pemerintah Pusat sebagai Pencetus Program .
-
Sebagai mediasi dengan Pelaku dan semua Komponen yang terlibat didalam Program.
-
Melakukan monitoring pelaksanaan Program.
-
Melakukan Evaluasi
Pelaku Pengrajin :
-
Sebagai Sasaran dalam hal membina anggota dalam Pelatihan dan penyediaan Peserta Pelatihan
-
Bertanggung jawab akan Tenaga Kerja dan Produksi.
-
Membantu Permodalan / bahan baku bagi anggota yang memerlukan.
-
Bisa memberikan producnya untuk dipajang di showroom dengan system konsinyasi.
Koperasi Pengrajin :
-
Dengan Dinas berkoordinasi masalah , permodalan dan yang lainnya.
-
Memfungsikan Koperasi sebagai wadah Perjuangan bersama dalam hal menampung hasil Produksi Kerajinan Ate..
-
Jika diberikan kesempatan berpameran, berkoordinasi dengan Dinas / Instansi yang dimediasi oleh Pendamping.
Lembaga Pendamping :
-
Membuat/ merencanakan Program Pelatihan dan pengembangan Disain, berkoordinasi dengan Pemerintah / Dinas / Instansi.
-
Pendampingan Manajemen, Produksi dan Manajemen Usaha.
-
Pendampingan dalam rangka memperkuat Kelembagaan Usaha.
-
Pendampingan dalam Hal Promosi dan Pemasaran Product, salah satunya berbasis IT.
Perbekel / Antar Perbekel / Tokoh Masyarakat :
-
Mendukung Program OVOP, yang mana nantinya bisa diperkuat dengan mengalokasikan kegiatan pendukung dari ADD atau mengusulkan di PNPM.
-
Membuat program Pelatihan dan Pendampingan yang berkelanjutan, sehingga hasil produksi memang betul-betul sudah sesuai dengan permintaan Pasar.
-
Mendukung program OVOP dengan menyebar luaskan pada Masyarakat, dan mendiskusikan antar Perbekel yang Potensinya dijadikan garapan OVOP, dan memberikan motivasi pada Masyarakat.
Rencana Kegiatan
a) Menyusun Program memantapkan kegiatan.
b) Merancang Pola Penggarapan OVOP secara Lintas Sektoral dan Terpadu.
c) Pendataan Pengrajin Ate didalam Sentra masing-masing Desa, dengan spesifikasi Product yang dihasilkan, bahan baku dan pemasaran, serta masalah-masalah yang muncul di Lapangan.
d) Pengembangan Lembaga Pendamping Disain
e) Pendampinan Manajemen Dan Pemasaran.
f) Melakukan Pelatihan Pengrajin :
Pengembangan Model, bentuk dan kreasi Kerajinan Ate yang dipadukan dengan material lainnya seperti bamboo, Pandan, Tempurung, dan asesoris kulit.
g) Produksi Dan Bahan Baku.
h) Berkordinasi dengan Pengrajin tentang produksi yang lagi tren diminati oleh Pasar.
i) Berkoordinasi dengan Dinas tentang Pelatihan apa yang diprioritaskan dilakukan sesuai permintaan oleh Konsumen
j) Menjembatani dan membantu persoalan bahan baku Pengrajin
k) Promosi, Informasi dan Pemasaran .
1) Didukung oleh Tempat Pajangan/ display barang / product yang merupakan tampilan product Kerajinan Karangasem.
2) Adanya kesepakatan Pengrajin dengan Lembaga Koperasi, akan menaruh product-product unggulannya di showroom/ display Koperasi Kerajinan.
3) Adanya dukungan Leflet, Katalog dari product yang dipajang.
4) Mencarikan Terobosan pasar, dengan mempertemukan dengan Buyer / Pembeli.
Khusus dalam hal Informasi dan Promosi Product Pengrajin, Koperasi Kerajinan Ate sebagai Simpul bisa menjembatani disamping bekerjasama dengan Dinas/ Instansi terkait, juga yang tidak kalah pentingnya sekarang, dengan menggunakan Teknologi Informasi berupa Pembuatan dan Pengelolaan Website.
1. Dengan Teknologi Internet, Para Pengrajin yang terhimpun dalam Koperasi Kerajinan Karangasem bisa melakukan komunikasi dan memperoleh Informasi dengan memanfaatkan media Internet dengan fasilitas Komputer atau Laptop, tetapi juga bisa menggunakan sarana Handphone/ HP.
2. Dengan Website kita bisa menginformasikan informasi product-product Kerajinan ate, baik ke Pelaku, Pemerintah Propinsi ataupun Pemerintah Pusat yang bisa langsung dilihat dengan melalui media Internet.
3. Dengan Internet, Pengrajin yang telah berpameran, diinformasikan langsung melalui Website bersama bagi Pengrajin.
4. Dengan adanya Media Website bersama ini, nantinya bisa dimanfaatkan antara Pelaku dengan Pembina khususnya dari Dinas dan Instansi, saling mendukung dengan tujuan mengangkat Pengrajin dan Potensi Karangasem.
5. Dengan memanfaatkan media Internet Product Kerajinan Karangasem dan Potensi Karangasem bisa diinformasikan setiap saat sehari 24 jam, kalaupun kita bersama lagi tidur sekalipun.
Dengan berapa pertimbangan dan alasan tersebut diatas kami memandang perlu dan sangat memerlukan program OPOV bisa dilaksanakan di Sentra Kerajinan Ate di Desa Sraya, Kecamatan Karangasem ,Propinsi Bali, sehingga bisa dikembangkan secara Terpadu dan komprehensip.
-
Kopinkra Karangasem